Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Sad Ayat 8

أَأُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْ بَيْنِنَا ۚ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْ ذِكْرِي ۖ بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ



mengapa Al Quran itu diturunkan kepadanya di antara kita?" Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Quran-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Mengapa telah diturunkan) dapat dibaca Tahqiq dapat pula dibaca Tas-hil (kepadanya) kepada Muhammad (peringatan) yakni kitab Alquran (di antara kita?) bukan diturunkan kepada orang yang tertua di antara kita atau orang yang paling terhormat di antara kita. Maksudnya, mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepada orang yang paling tua atau orang yang paling terhormat di antara mereka. Lalu Allah berfirman, ("Sebenarnya mereka ragu terhadap Alquran-Ku) atau ragu terhadap wahyu-Ku, yaitu Alquran, karena mereka mendustakan rasul yang mendatangkannya (dan sebenarnya belumlah) artinya, belum lagi (mereka merasakan azab-Ku") seandainya mereka telah merasakannya niscaya mereka mau beriman kepada Nabi saw. tentang apa yang disampaikan olehnya dari sisi-Ku. Akan tetapi pada saat itu, yakni saat mereka merasakan azab-Ku, tidak ada gunanya lagi iman.

Apakah di antara kita hanya Muhammad yang mendapat kemuliaan berupa turunnya al-Qur'ân?" Apa yang mereka perkirakan itu tidak benar sama sekali. Mereka bimbang dan ragu terhadap al-Qur'ân. Mereka bimbang dan ragu karena belum merasakan azab-Ku. Sungguh mereka akan merasakannya.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:32
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Yakni padahal dia bukanlah orang yang paling tua di antara kami dan bukan pula orang mulia (terhormat). Syubhat ini di dalamnya juga tidak terdapat hujjah untuk menolak Beliau, yakni alasan seperti ini bukanlah merupakan hujjah.

Oleh karena ucapan mereka itu tidak pantas untuk membantah apa yang Beliau bawa, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa ucapan itu muncul dari keraguan-raguan yang ada dalam hati mereka, bukan didasari ilmu apalagi bukti. Ketika mereka telah berada di dalam keragu-raguan dan mereka ridha dengannya, padahal kebenaran telah datang kepada mereka dengan jelasnya, tetapi mereka malah bertekad kuat untuk tetap di atas keragu-raguannya dan sikap membangkang, sehingga mereka mengatakan kata-kata yang maksudnya menolak yang hak, bukan berasal dari bukti tetapi berasal dari kedustaan mereka.

Sudah menjadi maklum, bahwa orang yang seperti ini sifatnya, yang berbicara atas dasar keragu-raguan dan sikap membangkang, maka ucapannya tidaklah diterima, tidak dapat mencacatkan kebenaran meskipun sedikit, dan bahwa karena ucapan itu, celaan dan cercaan malah berbalik kepada mereka. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam mereka dengan firman-Nya, “Tetapi mereka belum merasakan azab-Ku.” Yakni mereka mengatakan kata-kata itu dan berani mengucapkannya adalah karena mereka mendapatkan kenikmatan di dunia dan belum merasakan azab Allah ‘Azza wa Jalla.

Sekiranya mereka merasakan azab Allah, tentu mereka akan membenarkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak akan mengatakan kata-kata seperti itu, namun ketika mereka telah mendapatkan azab, maka keimanan tidak lagi bermanfaat.