Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Ta Ha Ayat 44

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ



maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut) untuk menyadarkannya supaya jangan mengaku menjadi tuhan (mudah-mudahan ia ingat) yakni sadar dan mau menerimanya (atau takut") kepada Allah lalu karenanya ia mau sadar. Ungkapan 'mudah-mudahan' berkaitan dengan pengetahuan Nabi Musa dan Nabi Harun. Adapun menurut pengetahuan Allah, maka Dia telah mengetahui bahwa Firaun tidak akan mau sadar dari perbuatannya.

Ajaklah ia untuk beriman kepada-Ku dengan lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat akan keimanan yang telah dilalaikannya, dan takut akan akibat sikapnya yang kafir dan zalim."

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:31
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Yakni dengan lembut dan beradab, tidak membual (mengada-ada), tidak keras ucapannya dan tidak kasar sikapnya. Ucapan yang lembut dapat membuat orang lain menerima, sedangkan ucapan yang keras dapat membuat orang lain menjauh. Nabi Musa ‘alaihs salam kemudian mengikuti perintah Allah tersebut, dan ketika sampai kepada Fir’aun dengan lembut Musa berkata sesuai perintah Allah, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri, dan engkau akan kuarahkan ke jalan Tuhanmu agar Engkau takut kepada-Nya?” (lihat surah An Naazi’at: 18-19) sepeti inilah cara yang perlu dilakukan da’i, yakni perkataannya tidak menunjukkan paksaan, tetapi menunjukkan pilihan dan penawaran seperti dengan kata-kata, “Maukah? Mungkin? Barang kali?” dsb. Karena hal ini lebih bisa diterima daripada perkataan yang terkesan memaksa atau mengajari, terlebih kepada orang yang lebih tua. Perhatikanlah kalimat tersebut, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri…dst.” Kalimatnya tidak “Agar aku bersihkan dirimu?” tetapi “membersihkan diri?” yang menunjukkan biarlah ia memberihkan dirinya sendiri setelah mengingatkan sesuatu yang membuatnya berpikir. Kemudian Musa ‘alaihis salam mengajaknya kepada jalan Tuhannya yang telah mengaruniakan berbagai nikmat yang nampak maupun yang tersembunyi, di mana nikmat-nikmat itu sepatutnya disyukuri dengan mengikuti perintah-perintah-Nya. Namun ternyata Fir’aun tidak menerima nasehat yang lembut itu, maka semakin jelaslah, bahwa peringatan tidak bermanfaat baginya, sehingga pantas jika Allah menghukumnya.

Kepada Allah.