Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Ta Ha Ayat 77

وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ



Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa, "Pergilah kalian dengan hamba-hamba-Ku di malam hari) jika dibaca Asri berasal dari Asraa dan jika dibaca Anisri dengan memakai Hamzah Washal, berasal dari kata Saraa, demikian menurut dua pendapat mengenainya, artinya: bawalah mereka pergi di malam hari dari negeri Mesir (maka buatlah untuk mereka) dengan tongkatmu itu (jalan yang kering di laut itu) artinya, jalan yang keadaannya telah kering. Nabi Musa mengerjakan apa yang telah diperintahkan kepadanya, lalu Allah mengeringkan jalan yang dilalui mereka, sehingga mereka dapat melaluinya (kamu tak usah khawatir akan tersusul) dapat terkejar oleh Firaun (dan tidak usah takut") tenggelam.

Setelah peristiwa itu, terjadi berbagai peristiwa lain antara Nabi Mûsâ dan Fir'aun. Di antaranya adalah peristiwa yang terjadi atas perintah Allah melalui wahyu-Nya kepada Mûsâ, agar ia membawa Banû Isrâ'îl keluar dari Mesir di malam hari. Melalui wahyu itu pula Allah memerintahkan Mûsâ agar memukul laut dengan tongkatnya hingga muncullah mukjizat yang lain, yaitu terbentangnya jalan yang tidak basah di tengah air laut. Allah menenangkan Mûsâ agar tidak khawatir bahwa Fir'aun akan dapat mengejar mereka dan bahwa mereka tidak akan tenggelam di dalam air.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:31
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Ketika Musa telah menunjukkan bukti-bukti kebenarannya kepada Fir’aun dan kaumnya, Beliau tinggal di Mesir mengajak mereka masuk Islam dan berusaha melepaskan bani Israil dari cengkraman Fir’aun dan penyiksaannya, sedangkan Fir’aun di atas sikap melampaui batas dan menjauh dari kebenaran, tugas yang diberikannya kepada bani Israil begitu berat. Allah memperlihatkan kepadanya ayat-ayat-Nya dan sesuatu yang dapat diambil pelajaran sebagaimana yang disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al Qur’an. Ketika itu, bani Israil tidak mampu menampakkan keimanannya, oleh karenanya mereka menjadikan rumah mereka sebagai masjid atau tempat shalat, dan mereka tetap bersabar terhadap Fir’aun dan gangguannya. Allah hendak menyelamatkan mereka dari musuh mereka, memberikan tempat kepada mereka di bumi dan agar mereka dapat beribadah kepada-Nya secara terang-terangan serta melaksanakan perintah-Nya, maka Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya Musa ‘alaihis salam untuk membawa pergi bani Israil di malam hari dan memberitahukan kepadanya bahwa Fir’aun dan kaumnya akan menyusul mereka. Berangkatlah bani Israil di awal malam, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak. Ketika pagi harinya, ternyata di sana sudah tidak ada lagi yang memanggil dan memenuhi panggilan (agak sepi), maka Fir’aun marah dan mengirimkan orang-orangnya untuk mengumpulkan kaumnya mendorong mereka untuk keluar mengejar bani Israil demi melampiaskan kemarahaannya, namun Allah berkuasa terhadap urusannya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Ketika itu berkumpullah semua tentara Fir’aun lalu mereka pergi bersama Fir’aun mendatangi bani Israil, dan mereka pun dapat menyusulnya di pagi hari. Saat bani Israil melihat pasukan Fir’aun, mereka pun kebingungan dan gelisah; Fir’aun di belakang mereka sedangkan laut di depan mereka, namun Musa tetap tenang dan yakin terhadap janji Tuhannya, dia berkata, “Sekali-kali kita tidak akan tersusul! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Maka Allah mewahyukan kepadanya untuki memukul laut dengan tongkatnya, lalu Musa memukulnya dan terbukalah 12 jalan, dan ketika itu air laut seperti gunung yang tinggi; di kanan dan di kiri jalan, Allah juga mengeringkan jalan yang mereka lalui, maka bani Israil menempuh jalan-jalan itu, lalu Fir’aun dan tentaranya mengikuti jalan itu. Ketika kaum Musa telah keluar dari laut itu seluruhnya, sedangkan Fir’aun dan tentaranya masih berada di jalan-jalan tersebut, maka Allah memerintahkan laut untuk menyatu dan tenggelamlah mereka dalam laut itu tanpa ada yang selamat, sedangkan bani Israil menyaksikan musuh mereka tenggelam sehingga hati mereka pun puas, inilah akibat dari kekafiran dan kesesatan, serta tidak menggunakan petunjuk Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut itu dengan tongkat. Lihat ayat 63 surat Asy Syu'araa.