Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Al-Hajj Ayat 67

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ ۖ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ ۚ وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ



Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan manasik tertentu) dapat dibaca Mansakan dan Minsakan artinya syariat (yang mereka lakukan) yakni mereka amalkan (maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu) makna yang dimaksud adalah, janganlah kamu membantah mereka (dalam urusan ini) masalah penyembelihan, karena mereka mengatakan, bahwa apa yang dimatikan oleh Allah yakni bangkai lebih berhak untuk kalian makan daripada apa yang kalian sembelih (dan serulah manusia kepada Rabbmu) agama-Nya. (Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada petunjuk) agama (yang lurus).

Kami telah memberikan kepada setiap umat terdahulu syariat khusus yang sesuai dengan keadaan mereka pada zaman itu. Mereka pun beribadah kepada Allah berdasarkan aturan-aturan yang terkandung di dalamnya hingga dihapus oleh syariat yang datang kemudian. Oleh karena itu, Kami memberikan kepada umatmu, wahai Muhammad, suatu syariat yang berisi tata cara mengabdi kepada Allah yang berlaku sampai hari kiamat. Jika demikan, maka orang-orang yang mengabdi kepada Allah menurut agama mereka yang lama, tidak berhak untuk menentangmu dengan keras. Agama lama itu telah dihapus dengan agamamu. Maka janganlah kamu pedulikan bantahan mereka itu! Tetaplah menyeru kepada Tuhan, sesuai dengan wahyu yang disampaikan kepadamu, karena kamu benar-benar berjalan di atas petunjuk Tuhan yang lurus.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:31
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Yang berbeda-beda dalam sebagian masalah, namun asasnya sama yaitu tauhid (beribadah kepada Allah saja dan menjauhi sesembahan selain-Nya), dan masing-masing syariat sama-sama menyeru kepada keadilan dan kebijaksanaan.

Yakni dalam masalah syariat, misalnya dalam penyembelihan, dengan mengatakan, “Apa yang dibunuh Allah (yakni mati sendiri) lebih berhak kamu makan daripada apa yang dibunuh kamu (dengan disembelih).”Atau seperti perkataan, “Jual beli sama dengan riba,” dsb. Orang yang suka membantah seperti ini jika maksudnya adalah hendak mencari petunjuk, maka perlu dikatakan kepadanya, “Pembicaraan ini tergantung apakah anda mempercayai risalah atau tidak? Jika tidak mempercayai, maka cukup sampai di sini dan berarti tujuan anda membantah adalah untuk melemahkan dan mencari-cari kesalahan.” Oleh karena itulah Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tetap mengajak manusia kepada agama-Nya dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan tetap meneruskan dakwahnya baik mereka merintangi atau tidak, karena Beliau di atas jalan yang lurus yang sampai ke tempat tujuan. Sama dalam hal ini firman-Nya, “Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, Sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (Terj. An Naml: 79)

Kalimat, “Sungguh, engkau (Muhammad) berada di jalan yang lurus” tedapat petunjuk agar menjawab orang-orang yang membantah Beliau tentang masalah syariat dengan akal, karena syariat sudah maklum baiknya, adil dan bijaksananya berdasarkan akal dan fitrah yang masih sehat, dan hal ini dapat diketahui dengan memikirkan perintah dan larangan yang rinci.