Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Asy-Syu'ara' Ayat 52

۞ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ



Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: "Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli".

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Dan Kami wahyukan kepada Musa) sesudah beberapa tahun ia tinggal bersama dengan kaum Firaun, yang di masa-masa itu ia menyeru mereka kepada jalan yang benar dengan membawa ayat-ayat Allah, akan tetapi hal itu tidak menambah mereka melainkan hanya kesombongan belaka, ("Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku) yakni bangsa Bani Israel. Menurut suatu qiraat lafal An Asri dibaca An-isri. Asal katanya adalah berakar dari lafal Asra; maksudnya, pergilah dengan mereka menuju ke arah laut Merah di malam hari (karena sesungguhnya kamu sekalian akan dikejar") oleh Firaun dan bala tentaranya, maka mereka pun ikut masuk ke dalam laut di belakang kalian, lalu Aku menyelamatkan kalian dan menenggelamkan mereka.

Saat didapati Mûsâ tak tahan lagi menahan pedih, Allah mewahyukan kepadanya untuk membawa pergi orang-orang Banû Isrâ'îl yang beriman pada malam hari. Dan Allah telah mengatur kedua kelompok ini--yaitu Mûsâ dan kaumnya berada di muka, sementara Fir'aun beserta kaumnya mengikuti di belakang mereka--sehingga, begitu sampai di laut, Allah akan membinasakan Fir'aun dan balatentaranya.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:32
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Selanjutnya Fir’aun dan kaumnya tetap terus di atas kekafirannya meskipun Nabi Musa ‘alaihis salam memperlihatkan berbagai mukjizat. Setiap kali mukjizat yang berupa azab datang kepada mereka, maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, bahwa jika azab itu hilang, maka mereka akan beriman dan akan melepaskan Bani Israil bersamanya, lalu Allah menghilangkan azab itu, namun mereka mengingkari janji dan terus menerus seperti itu sampai Nabi Musa ‘alaihis salam berputus asa dari mengharapkan keimanan mereka (Fir’aun dan kaumnya), dan mereka sudah berhak menerima azab, serta telah tiba waktu untuk menyelamatkan Bani Israil dari cengkeraman mereka dan memberikan tempat bagi mereka di bumi.

Setelah berlalu beberapa tahun, di mana Beliau mengajak mereka kepada kebenaran dengan membawa mukjizat, namun ajakan Beliau tidak menambah mereka selain kedurhakaan.

Dan ternyata demikian. Mereka dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya. Para mufassir banyak yang menerangkan, bahwa perginya Nabi Musa ‘alaihis salam membawa Bani Israil dilakukan pada waktu bulan muncul, dan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam sebelumnya bertanya tentang kuburan Nabi Yusuf ‘alaihis salam, lalu ditunjukkanlah oleh perempuan tua Bani Israil, kemudian Beliau membawa peti mayatnya, karena Yusuf ‘alaihis salam berwasiat seperti itu, yakni apabila Bani Israil keluar (dari Mesir), ia meminta agar petinya dibawa bersama mereka. Ketika tiba pagi harinya dan majlis petemuan mereka sepi; tidak ada yang memanggil maupun menjawab, maka bertambahlah kemarahan Fir’aun dan diputuskannya untuk mengejar Bani Israil.