Surat Ar-Rum Ayat 8

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ



Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.

(Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang diri mereka sendiri?) supaya mereka sadar dari kelalaiannya. (Allah tidak menjadikan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan) artinya akan lenyap setelah waktunya habis, sesudah itu tibalah saatnya hari berbangkit. (Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia) yaitu orang-orang kafir Mekah (benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya) yakni mereka tidak percaya kepada adanya hari berbangkit sesudah mati.

Apakah mata dan kalbu mereka telah dilemahkan sehingga mereka tidak dapat berpikir tentang diri mereka untuk mengetahui kesudahan mereka? Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi dan planet- planet serta yang lainnya kecuali dengan sungguh-sungguh dan untuk jangka waktu yang telah ditentukan. Sesungguhnya kebanyakan manusia membangkang dalam hal pertemuannya dengan Allah dan datangnya hari kiamat.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:32
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Yakni mereka yang mendustakan para rasul Allah dan pertemuan dengan-Nya.

Sesungguhnya dalam diri mereka terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa yang mengadakan mereka dari yang sebelumnya tidak ada akan mengulangi penciptaan lagi, dan bahwa yang mengubah mereka dari satu keadaan kepada keadaan yang lain; dari mani menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging dan selanjutnya menjadi manusia yang memiliki ruh, dari anak kecil menjadi anak muda, lalu menjadi orang tua hingga menjadi kakek-kakek, tidak mungkin yang menjadikan seperti itu membiarkan mereka begitu saja, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. Ini tidak mungkin.

Yakni untuk menguji manusia siapakah yang paling baik amalnya; paling ikhlas dan sesuai sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

Maksudnya, keutuhan langit dan bumi telah ditentukan sampai waktu tertentu, di mana ketika itu bumi dan langit diganti dengan bumi dan langit yang baru.

Oleh karena itu, mereka tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi pertemuan dengan-Nya, tidak membenarkan para rasul yang memberitakannya, dan kekafiran ini merupakan kekafiran yang tidak didasari dalil. Bahkan dalil-dalil yang ada memastikan adanya kebangkitan dan pembalasan. Oleh karena itulah, di ayat selanjutnya Allah mengingatkan mereka untuk melakukan perjalanan di bumi dan melihat kesudahan yang menimpa orang-orang mendustakan para rasul dan menyelisihi perintahnya yang keadaannya lebih kuat dan lebih banyak peninggalannya di bumi, seperti sisa-sisa istana dan benteng-benteng, pepohonan yang mereka tanam, sungai yang mereka gali, tetapi kenyataannya kekuatan itu tidak berguna bagi mereka, dan peninggalan mereka tidak bermanfaat apa-apa saat mereka mendustakan rasul-rasul mereka yang datang membawa keterangan yang nyata yang menunjukkan kebenaran mereka dan kebenaran yang mereka bawa. Karena ketika melihat bekas peninggalan mereka, maka kita tidak menemukan selain sebagai umat-umat yang binasa, tempat tinggalnya pun sepi dijauhi manusia dan celaan dari manusia pun bertubi-tubi. Ini merupakan balasan yang disegerakan sekaligus sebagai contoh untuk balasan di akhirat dan awal baginya. Semua umat itu telah binasa, Allah tidak menzalimi mereka, akan tetapi mereka yang menzalimi diri mereka dan menyebabkan binasa.