Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat Saba’ Ayat 19

فَقَالُوا رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا وَظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ



Maka mereka berkata: "Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami", dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Mereka berkata, "Ya Rabb kami! Jauhkanlah) menurut suatu qiraat huruf 'Ain-nya di-tasydid-kan (jarak perjalanan kami") ke negeri Syam, maksudnya jadikanlah tempat-tempat yang dilalui itu menjadi padang sahara, supaya jarak perjalanan itu dianggap sangat jauh bagi orang-orang yang miskin, yaitu karena membutuhkan bekal-bekal yang banyak dan persediaan air yang cukup. Maka mereka mengingkari nikmat tersebut (dan mereka menganiaya diri mereka sendiri) dengan melakukan kekafiran (maka Kami jadikan mereka buah mulut) bagi orang-orang yang sesudah mereka dalam hal itu (dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya) Kami cerai-beraikan mereka dari negeri tempat tinggal mereka. (Sesungguhnya pada yang demikian itu) pada yang telah disebutkan itu (benar-benar terdapat tanda-tanda) yakni pelajaran (bagi setiap orang yang sabar) menahan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat (lagi bersyukur) atas nikmat-nikmat-Nya.

Dengan nikmat kedamaian dan keamanan yang Kami berikan itu, mereka menjadi sombong dan berkata dengan bangga, "Ya Tuhan, jadikanlah jarak perjalanan kami menjadi jauh. Janganlah Engkau pertemukan kami dengan kota yang ramai di tengah perjalanan kami!" Mereka telah menganiaya diri sendiri dengan kesewenang-wenangan, sehingga Kami jadikan sebagai bahan perbincangan bagi orang lain. Mereka Kami ceraiberaikan sejadi-jadinya. Sesungguhnya apa yang tengah menimpa diri mereka merupakan pelajaran berharga bagi orang yang bersabar atas musibah dan bagi orang yang mau mensyukuri karunia Tuhan.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:32
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Mereka meminta agar kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan dan dijadikan padang sahara yang tandus supaya mereka dapat berbangga diri di hadapan kaum fakir dengan mengendarai unta, serta membawa perbekalan dan air, atau maksudnya agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.

Dengan kufur kepada Allah dan kepada nikmat-Nya, maka Allah menghukum mereka dan membinasakan mereka dengan mengirimkan banjir besar yang keras yang merobohkan bendungan mereka, membinasakan kebun-kebun mereka, maka bergantilah kebun yang indah itu menjadi kebun yang tidak ada manfaatnya, di mana buah-buahnya terasa pahit, dan tanaman lainnya yang tumbuh adalah pohon Atsl dan pohon Sidr. Yang demikian karena mereka merubah syukur dengan kekufuran, sehingga nikmat yang mereka peroleh dirubah dengan hukuman.

Bagi generasi setelah mereka.

Mereka kemudian berpencar setelah sebelumnya bersatu, dan Allah jadikan mereka bahan pembicaraan dan sebagai contoh bagi yang lain. Meskipun begitu, tidak ada yang mengambil pelajaran dari peristiwa itu selain orang yang bersabar lagi bersyukur sebagaimana diterangkan dalam ayat di atas.

Yakni sabar dalam menerima musibah dan kepedihan, siap memikulnya karena mencari keridhaan Allah, tidak kesal bahkan ridha kepadanya.

Terhadap nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan mengakuinya, memuji yang memberinya nikmat dan mengalihkan nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Orang yang sabar lagi bersyukur ketika mendengar kisah mereka dan hal yang terjadi pada mereka dapat mengetahui bahwa musibah tersebut sebagai balasan terhadap kufurnya mereka kepada nikmat Allah dan bahwa barang siapa yang berbuat seperti itu akan diberikan balasan yang serupa, ia juga mengetahui, bahwa syukur kepada Allah dapat menjaga nikmat dan menolak hukuman. Demikian pula ia mengetahui, bahwa para rasul adalah benar dalam berita yang mereka sampaikan, dan bahwa pembalasan adalah benar sebagaimana ia melihat contoh-contohnya ketika di dunia.