Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat An-Nisa' Ayat 17

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا



Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Sesungguhnya tobat di isi Allah) yakni yang pasti diterima di sisi-Nya berkat kemurahan-Nya (ialah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan) atau maksiat (disebabkan kejahilan) menjadi hal artinya tidak tahu bahwa dengan itu berarti mendurhakai Allah (kemudian mereka bertobat dalam) waktu (dekat) yakni sebelum mengalami sekarat (maka mereka itulah yang diterima tobatnya oleh Allah) artinya diterima-Nya tobat mereka (dan Allah Maha Mengetahui) akan makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) mengenai tindakan-Nya terhadap mereka.

Sesungguhnya pertobatan akan dijamin oleh Allah bagi mereka yang melakukan kejahatan dalam keadaan tidak tahu lantaran bodoh atau tidak sadar, lalu segera bertobat sebelum datang ajalnya. Pertobatan mereka akan diterima oleh Allah Swt. Allah Maha Mengetahui kesungguhan tobat lagi Mahabijaksana, tidak pernah salah dalam menentukan.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:31
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Tobat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya terbagi dua: berupa taufiq dari Allah untuk bertobat dan menerimanya.

Termasuk "tidak mengerti" adalah: 1. Orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali setelah dipikirkan lebih dahulu. 2. Orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak. 3. Orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran disebabkan karena sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu. 4. Karena tidak mengerti akibatnya dan bahwa perbuatan tersebut dapat mendatangkan kemurkaan Allah serta siksa-Nya, 5. Karena tidak mengerti bahwa Allah menyaksikan dan melihatnya, 6. Karena tidak mengerti bahwa perbuatan terebut akan mengakibatkan imannya lemah atau bahkan hilang. Dengan demikian, setiap orang berbuat maksiat adalah orang yang jahil (tidak mengerti) berdasarkan pertimbangan tersebut meskipun mengetahui keharamannya. Bahkan mengetahui suatu hal haram merupakan syarat perbuatan tersebut disebut maksiat yang dikenakan siksa.

Yakni sebelum ajal di kerongkongan atau sebelum menyaksikan maut dan sebelum menyaksikan azab. Bisa juga arti "kemudian segera bertobat" yakni segera bertobat setelah melakukan dosa tersebut, sehingga maksud ayat tersebut adalah, "Barang siapa yang segera berhenti ketika melakukan dosa, lalu kembali kepada Allah dan menyesalinya, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya." Berbeda dengan orang yang terus-menerus berbuat dosa dan berada di atas cacatnya sehingga sifat itu menancap dalam dirinya, maka sulit baginya mewujudkan tobat yang sempurna, bahkan biasanya ia tidak diberi taufiq untuk bertobat dan tidak dipermudah sebab-sebabnya, misalnya orang yang mengerjakan keburukan atas dasar pengetahuan yang yakin dan meremehkan perhatian Allah, maka sesungguhnya ia sama saja menutup pintu rahmat bagi dirinya. Namun terkadang Allah memberikan taufiq untuk bertobat kepada orang yang selalu berbuat dosa atas dasar kesengajaan, di mana dengan tobat itu perbuatan jahatnya yang telah lalu terhapus, tetapi rahmat dan taufiq lebih dekat kepada yang pertama tadi, oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengakhirinya ayat dengan firman-Nya, "Wa kaanallahu 'aliiman hakiimaa" (Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana). Termasuk ilmu-Nya adalah Dia mengetahui orang yang benar-benar bertobat dengan yang dusta, sehingga Dia membalas masing-masingnya sesuai kebijksanaan-Nya. Termasuk kebijaksanaan-Nya adalah Dia memberi taufiq untuk bertobat orang yang dikehendaki oleh kebijaksanaan dan rahmat-Nya.