Kredit barang tanpa riba di SyarQ

Surat An-Nisa' Ayat 66

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا



Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Dan seandainya Kami wajibkan kepada mereka) an sebagai penafsiran ("Bunuhlah dirimu," atau, "Keluarlah kamu dari kampungmu,") sebagaimana telah Kami lakukan terhadap Bani Israel (tidaklah mereka akan melakukannya) apa yang diharuskan itu (kecuali sebagian kecil) dibaca marfu` sebagai badal dan manshub sebagai mustatsna (di antara mereka. Dan sekiranya mereka melakukan apa yang dinasihatkan kepada mereka itu) yakni menaati Rasul (tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan) lebih memantapkan keimanan mereka.

Kalau saja Kami menentukan tugas yang sangat berat dengan memerintahkan jihad terus menerus, membiarkan mereka mati atau meninggalkan rumah terus menerus untuk berjihad, tentu hanya sedikit yang menaatinya. Tetapi Allah Swt. memang tidak mewajibkan sesuatu kecuali sesuai kemampuan manusia. Kalau saja mereka melakukan perintah itu, tentu akan membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan, tentu akan mengarah kepada kemantapan iman, kestabilan dan ketenteraman.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:31
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk keadaan hamba menyampaikan bahwa jika diperintahkan kepada hamba beban-beban yang berat seperti membunuh dirinya dan keluar dari kampung halaman, niscaya tidak ada yang melakukannya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena perintah-perintah-Nya yang ringan; yang mudah dikerjakan setiap orang. Perhatikanlah shalat lima waktu yang tidak memakan waktu yang lama dengan pahala besar yang dijanjikan, shalat-shalat sunat, dzikrullah, dsb. semua ini ringan dikerjakan.

Yakni menaati perintah yang diberikan secara bertahap, lalu mereka mengerahkan kemampuannya untuk dapat melakukannya dan menyempurnakannya, tidak langsung mengerjakan sesuatu yang mereka belum sanggup melakukannya. Inilah keadaan yang patut dimiliki seorang hamba, yakni memperhatikan perintah yang mesti dilakukannya, kemudian dia menyempurnakannya, lalu meningkat kepada perintah selanjutnya sedikit demi sedikit hingga mencapai sesuatu yang ditaqdirkan baginya berupa ilmu dan amal dalam urusan agama dan dunia. Berbeda dengan orang yang langsung melihat kepada perkara yang belum bisa dicapainya dan belum diperintahkannya, maka biasanya ia tidak dapat melakukannya karena perhatiannya yang tidak fokus dan munculnya kemalasan.

Yakni membuat iman mereka semakin bertambah. Hal itu, karena Allah akan meneguhkan iman orang-orang mukmin karena ketaatan yang mereka kerjakan. Allah akan meneguhkan mereka di dunia, seperti ketika adanya cobaan dengan perintah, larangan dan adanya musibah, maka mereka dapat melaksanakan perintah itu, menjauhi larangan dan menyikapi musibah dengan sabar dan ridha serta bersyukur terhadap nikmat yang diberikan. Demikian pula Allah memberikan keteguhan dalam agama (istiqamah), ketika wafat dan ketika berada di kubur. Di samping itu, seorang hamba yang mengerjakan perintah itu, maka akan terbiasa melakukannya, membuatnya tidak merasa terbebani, bahkan senang kepadanya sehingga hal ini membantunya untuk tetap di atas ketaatan.