Surat Al-Hujurat Ayat 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ



Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin Segera Bisa? Klik disini Sekarang!

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman) yakni orang-orang yang benar-benar beriman, sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya (hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu) dalam keimanannya (dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah) mereka benar-benar berjihad berkat kesungguhan iman mereka (mereka itulah orang-orang yang benar) dalam keimanan mereka, bukan seperti orang-orang yang mengatakan, "Kami telah beriman", sedangkan dalam diri mereka yang dijumpai hanya ketundukan belaka.

Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang sebenarnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ada keraguan sedikit pun di dalam hati mereka terhadap apa yang diimaninya, dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.

Anda harus untuk dapat menambahkan tafsir

Admin

Submit : 2015-04-01 02:13:32
Link sumber: http://tafsir.web.id/

Yani mukmin hakiki.

Hal itu karena jihad membuktikan benar dan kuatnya iman mereka. Sebalikanya, orang yang tidak kuat berjihad, maka yang demikian menunjukkan imannya lemah. Dalam ayat tersebut Allah Subhaanahu wa Ta'aala mensyaratkan iman mereka dengan tidak ragu-ragu, karena iman yang bermanfaat adalah keyakinan yang pasti kepada apa saja yang diperintahkan Allah untuk diimani, dimana hal itu tidak dicampuri oleh keraguan sedikit pun.

Yang membenarkan iman mereka dengan amal mereka yang baik. Kejujuran adalah dakwaan yang besar dalam segala sesuatu, dimana pelakunya butuh kepada hujjah dan bukti, dan yang paling besar dalam hal ini adalah dakwaan beriman yang merupakan pusat kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itu, barang siapa yang mengaku beriman, mengerjakan kewajiban dan lawazim (yang menjadi bagiannya), maka dialah yang benar imannya atau mukmin hakiki. Jika tidak demikian, maka dapat diketahui, bahwa dia tidak benar dalam dakwaannya dan tidak ada faedah pada dakwaannya, karena iman dalam hati tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala. Dengan demikian, menetapkan dan menafikannya termasuk memberitahukan kepada Allah apa yang ada dalam hati, dan ini merupakan adab dan sangkaan yang buruk kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itulah pada ayat selanjutnya Dia berfirman, “Katakanlah (kepada mereka), "Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."